Seorang filsuf  dari masa pencerahan abad 18,  Marquis de Condorec meramalkan bahwa dalam jangka 200 tahun ke depan akan terjadi peningkatan produktivitas dalam bidang manufaktur dan agrikultur, perumahan dan makanan, dan peningkatan substansial dalam jumlah penduduk dan harapan hidup, serta kemajuan pesat di bidang teknologi pengobatan dan penghilangan penyakit (Kramnick 1995: 26-28)
Sekarang kita berada fase demikian,  dimana teknologi dan sains sedang tumbuh berkembang maju dan saling menopang satu sama lain. Mulai dari revolusi teknologi digital, IoT (internet of things)  kecerdasan artifisial (AI),  Algoritma ,  Kloning,  sampai menunggu Martabak di tempat duduk oleh kendaraan online. Semua bagai memasuki mimpi ataupun hayalan manusia lampau.
Pembangunan juga tidak kalah menarik, gedung-gedung berlomba-lomba mencakar langit hingga gedung bawah tanah untuk memanfaatkan lahan yang ada. Fast food, gerai-gerai kopi mewah, tempat-tempat hiburan wilayah urban, bioskop dll, menjamur dan membentuk pola konsumsi masyarakat melalui media-media iklan sebagai basis Kapitalisme kontemporer.
            Kemajuan seperti demikian membutuhkan basis material yang harus dikorbankan demi alih-alih mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan dalih kesejahteraan. Penggarapan lahan, penebangan pohon sampai reklamasi pantai menjadi syarat utama. Ruang-ruang hijau makin menyempit karena produksi ruang (production of space) oleh Kapitalisme.
            Salah satu murid Smith, Thomas Robert Mathus. Pada  1798, saat berusia 32 tahun, mempublikasikan karya tanpa mencantumkan namanya yang berjudul Essay on Population, yang pada intinya mengatakan bahwa sumber daya bumi tidak bisa mengimbangi kebutuhan populasi yang terus bertambah. Pemikirannya yang buram ini mengubah lanscape politik , dan dengan cepat melenyapkan pandangan positif Adam Smith, Condorec, Godwin dan pendukung pencerahan lainnya. Malthus bersama kawan karibnya, David Ricardo, menegaskan bahwa tekanan terhadap sumber daya yang terbatas akan selalu membuat manusiaa mendekati garis kemiskinan (Skousen 2012:85)
            Mungkin dalam beberapa ratus tahun, kita akan membangun koloni manusia di tengah binatang-binatang.
Begitu tulis Stephen Hawking dalam Koran Guardain akhir 2016. Percepatan kiamat bumi ini, didorong oleh enam hal: perubahan iklim oleh pemanasan global, menurunya produksi pangan menyebabkan kelaparan di sejumlah kawasan dan konflik agraria, kelebihan populasi manusia yang meningkatkan  tingkat kemiskinan, penggangguran dan kriminalitas, penyakit epidemic yang dapat memusnahkan populasi manusia secara cepat, dan perang nuklir yang dapat menyebabkan kepunahan umat manusia dalam sekejap. (Harian indoPROGRESS)
Hawking kemudian menyarankan pemimpin dunia bahu-mebahu menyiapkan tempat tinggal manusia di planet lain.
Pernyataan Hawking di atas, semuanya berkitan dengan kemajuan dan pembangunan dalam relasi Kapitalisme. Pemodal yang masuk melalui Negara kelas (kesepakatan) mendapatkan ruang-ruang untuk di eksploitasi melalui legitimas Negara. Pabrik-pabrik berdiri di wilayah pinggiran. Dasarnya adalah AMDAL. Padahal AMDAL semestinya jadi legitimasi menghalangi pabrik-pabrik untuk beroperasi, karena sudah jelas dampaknya. Yang dikorbankan adalah Alam, pembabatan hutan dan pencemaran limbah pabrik.
Sekitr 150 tahun yang lalu, Marx telah memikirkan dampak kehancuran ekologis yang diakibatkan Kapitalisme. Bagi Marx, alam memiliki sistem metabolisme untuk terus menerus berevolusi, bergerak terus menerus. Di tengah kecanggihan teknologi yang diciptakan oleh manusia , seiring dengan sistem ekonomi bebas yang dijalankan, kerja manusia di bumi kemudian sangat menentukan metabolisme itu. Ketika laku, kerja dan praksis manusia tak lagi mengindahkan metabolisme alam, keretakan metabolisme menjadi sulit ditangani. Dalam Paris Manuscript, Marx menyatakan “Kehidupan spesies, bagi manusia maupun binatang , secara fisik terletak pada fakta bahwa secara fisik manusia (maupun binatang) menggantungkan hidupnya dalam alam inorganic; yang menjadi fondasi dari hidupnya…secara fisik manusia hanya bisa hidup dari hasil alam ini, entah mereka hadir sebagai makanan, penghangat, pakaian, tempat tinggal, dst…alam merupakan tubuh inorganic manusia, yakni alam sejaauh bukan tubuh manusia. Manusia hidup dari alam (alam adalah tubuhnya) dan ia mesti menjalin dialog terus menerus dengan alam apabila tak ingin mati. Mengatakan bahwa kehidupan fisik  dan mental manusia itu terhubung dengan alam sama saja bahwa alam terhubung dengan dirinya sendiri, sebab manusia adalah satu bagian dari alam (kutipan Paris Manuscript diterjemahkan oleh Matin Suryajaya: 2016)

Peran Mahasiswa pecinta alam (MAPALA)
            Soe Hok Gie, adalah salah satu pendiri MAPALA, juga merupakan demonstran yang menentang kesenjangan Rezim Soekarno sampai Rezim Soeharto, atau masuk dalam angkatan “66”.
Melihat orientaasi ideologi maupun gerakan, tentu menuai pertanyaan, kenapa kemudian dia membentuk wadah MAPALA(?) ketika berkaca dari orientasi MAPALA masa kini.
            Penulis berpendapat bahwa, tidak ada yang salah dengan langkah yang di ambil Oleh Gie. Dia menentang imperialisme maupun Kapitalisme karna kesenjangan yang dihasilkan oleh sistem ataupun ideolgi tersebut. Gie menyadari akan pentingnya peran alam sebagai tubuh manusia (ataupun binatang) demi kelangsungan hidup manusia. Ketika memiliki kesadaran akan manusia menggantungkan hidupnya di alam inorganic, harusnya menentang segala bentuk pembangunan yang merusak alam, termasuk, penebangan pohon, penggarapan lahan, reklamasi pantai sampai pencemaran lingkungan. Maksud Soe Hok Gie adalah demikian pada pembentukan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam.
Mahasiswa masa kini juga merupakan penyumbang besar (konsumtif) terhadap perusakan alam, tidak memiliki kesadaran dan tanggung jawab akan kehidupan yang akan datang. Dalam kacamata ekonomi politik, ada hubungan yang kuat akan tindakan manusia sehari-hari dengan sumbangan kapital kepada kaum borjuis dan perusakan lingkungan oleh pabrik-pabrik. Dalam teori ekonomi, permintaan selalu menghsilkan penawaran. Ketika daya konsumsi tinggi (pembentukan subjek oleh formasi kapitalisme melalui media iklan) semakin tinggi produksi barang oleh perusahan-perusahan. Semakin perusahan melebarkan sayapnya melalui production of space.
Produksi ruang sendiri dimulai dengan praktik spasial (spatial practice) yang menggeser focus dari produksi (misalnya, cara-cara produksi seperti pabrik)  ke produksi ruang melalui spatial practice (baca: Lafabvre The Production of Space). Diciptakan oleh kebijakan pembangunan di wilayah pinggiran kota (misalnya: perencanaan tata kota arsitek, perumahan, tempat belanja, jalan TOL, dll ) masyarakat menggangapnya sebagai representasi ruang (representation of space)  atau ruang sesungguhnya yang dibayangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan. Padahal dibalik itu ada modus ekonomi (provide oriented) yang sebenarnya kita menyumbangkannya melalui praktik-praktik konsumtif.
Lebih kerucut lagi, adalah pola keseharian manusia yang berdampak kepada hutan yang merupakan sumber kehidupan manusia. Misalnya, penggunaan Tissue dan kertas yang pada dasarnya basis materinya adalah pohon. Tissue seakan menjadi kebutuhan utama manusia apalagi Mahasiswa. Disamping penggunaan kertas oleh Mahasiswa karna tuntutan kampus yang terkait, apalagi dalam penyelesaian studi akhir yaitu pembuatan skripsi.
Bahan baku dari tissue adalah pulp atau bubur kertas = kayu = pohon. 1 Box tissue (isi 20 set) diproduksi dari 1 batang pohon.
Menurut Koesnadi dari Sekjen Sarekat Hijau Indonesia (SHI) tentang hitungan sederhana bagaimana penyusutan hutan alam Indonesia akibat dari penggunaan tissue oleh masyarakat. ” Jika jumlah penduduk Indonesia 200 juta orang, dan setiap 1 harinya 1 orang menggunakan ½ gulung kertas tissue, artinya penggunaan kertas tissue bisa mencapai 100 juta gulung tissue perhari, berarti perbulannya, pemakaian tissue di Indonesia mencapai 3 miliar gulung. Bila berat kertas tissue itu 1 gulung mencapai ¼ Kg, maka 3 milyar dihasilkan angka kira 750 juta Kg, setra dengan 750 Ton, bila untuk menghasilkan 1 Ton Pulp diperlukan 5 m3 kayu bulat, dengan asumsi kayu bulat 120 m3 perhektar (diameter 10 up) maka sudah bisa ditebak penggunakan hutan mencapai ratusan ribu hektar untuk setiap bulannya.
            Penulis Dhea Nadya di Harian Kompasiana menulis dalam penelitiannya, setiap produksi kertas memerlukan bahan kimia, air dan energi dalam jumlah besar dan tentu  saja bahan baku, yang pada umumnya berasal dari kayu. Diperlukan 1 batang pohon usia 5 tahun untuk memproduksi 1 rim kertas. Bisa kita bayangkan, ada berapa jumlah kertas yang digunakan untuk penyelesaian studi akhir kampus dalam pembuatan Skripsi. Misalnya, jumlah Mahasiswa tingkat ahir di kampus sekitar 600 orang. Penggunaan kertas kira-kira membutuhkan 1 rim kertas per Mahasiswa dalam peneyelesaian Skripsi ( dari revisi prosal draft skripsi sampai penyelesaian skripsi). 600 x 1 rim = 600.000 rim. Berarti diperlukan 600.000 pohon (yang berusia 5 tahun) dalam 1 tahun kelulusan Mahasiswa. Bisa kita bayangkan, bagaimana kampus ikut menebang pohon dan menyumbang kerusakan alam dalam setiap tahunnya. Padahal, skripsi yang dihasilkan hanya menjadi tumpukan kertas di gudang, yang nantinya pasti dibuang.
Menjadi MAPALA berarti menjadi Homo Economicus. Homo Economicus dalam pengertian ini bukanlah manusia dalam pengertian ekonomi pasar bebas (Liberalisme ekonomi) yang mementingkan diri sendiri (selft interest). Menjadi Homo Economicus berarti mempertimbangkan secara efesien dan efektif setiap langkah ekonomi yang diambil. Termasuk kaitannya dengan tindakan sehari-hari dengan perusakan lingkungan.
            Wilayah ideologi dan praksis MAPALA adalah demikian, dengaan melakukan seminimalisir mungkin perusakan lingkungan. Dimulai dari pola hidup Tidak menggunakan Tissue sehari-hari dan beralih ke sapu tangan.
 Program kampanye kedepannya adalah “Menolak penggunaan kertas dalam menyelesaikan studi Skripsi”. Alternatifnya adalah, dengan menggunakan teknologi.
Salam lestari!!!


Komentar